Savant Syndrome: Definisi, Karakteristik, dan Mekanisme Sindrom Savant

Berikut ini adalah definisi, karakteristik dan mekanisme sindrom savant (savant syndrome).

Definisi Savant Syndrome

Sindrom savant adalah sebuah kondisi dimana seseorang menunjukkan kapasitas atau kemampuan yang mendalam dan luar biasa, yang jauh melebihi derajat yang dianggap normal.

Orang dengan sindrom savant mungkin memiliki gangguan perkembangan saraf, terutama gangguan spektrum autisme atau cedera otak. Contoh paling dramatis dari sindrom savant terjadi pada individu yang memperoleh skor sangat rendah pada tes IQ, namun menunjukkan keterampilan yang luar biasa atau kecemerlangan pada bidang tertentu, misalnya perhitungan cepat, seni, memori, atau musikalitas.

Meskipun disebut sebagai “sindrom”, namun gejala ini tidak dianggap sebagai gangguan mental dan tidak termasuk dalam daftar gangguan mental resmi dalam manual medis seperti ICD-10 atau DSM-V.

Karakteristik Savant Syndrome

Savant skills atau keahlian savant umumnya terdapat pada salah satu atau beberapa dari lima bidang utama: seni, musikalitas, perhitungan kalender, matematika, dan keahlian spasial.

Bentuk paling umum dari savant autistik adalah keahlian dalam melakukan perhitungan kalender. Pemilik keahlian ini, yang kerap disebut sebagai “kalender hidup”, mampu menentukan hari dari suatu tanggal dengan sangat cepat dan akurat.

Selain itu, sebuah penelitian menunjukkan bahwa memori luar biasa adalah bentuk kedua paling umum dari keahlian savant.

Mekanisme Savant Syndrome

Psikologis

Tidak ada teori kognitif yang diakui secara luas terkait dengan kombinasi antara talenta dan kekurangan yang ada pada orang dengan sindrom savant. Ada pendapat yang menganggap bahwa individu dengan autisme memiliki bias terhadap aktivitas yang terfokus pada detail, dan bahwa gaya kognitif semacam ini merupakan kecenderungan yang ada pada individu dengan bakat savant, baik dengan atau tanpa autisme.

Hipotesis lainnya menyatakan bahwa para savant memiliki kecenderungan hiper-sistematisasi (hyper-systemizing) sehingga memunculkan impresi atas talenta. Hiper-sistematisasi adalah suatu kondisi ekstrim dalam teori  empathizing–systemizing yang mengklasifikasikan manusia berdasarkan (perbandingan) keterampilan mereka dalam berempati pada sesama dan melakukan sistematisasi atas fakta-fakta di lingkungan sekitarnya.

Selain itu, perhatian para savant terhadap detail merupakan sebuah konsekuensi dari kepekaan persepsi atau hipersensitivitas indrawi yang ada pada individual tersebut. Telah dikonfirmasikan pula bahwa para savant “beroperasi” dengan secara langsung mengakses informasi level rendah – yang biasanya kurang diproses dalam otak manusia – yang oleh “orang normal” tidak akan dilakukan dalam kondisi sadar.

Neurologis

Sebagian teori menyatakan bahwa savant syndrome merupakan akibat dari kerusakan lobus temporalis anterior sebelah kiri – area otak yang berfungsi untuk mengolah masukan indrawi, mengenali obyek, dan membentuk memori visual.

Sindrom ini telah direplikasi secara artifisial dengan memanfaatkan transcranial magnetic stimulation untuk menghentikan kinerja bagian otak ini secara temporer.

Epidemiologi

Tidak pernah ada catatan resmi yang menunjukkan jumlah orang yang memiliki sindrom savant. Perkiraan yang ada menyatakan bahwa jumlahnya antara “sangat langka” hingga satu dari sepuluh orang dengan autisme memiliki keahlian savant dalam derajat yang bervariasi.

Penelitian di Britania Raya pada tahun 2009 yang dilakukan terhadap 137 orang tua dari anak-anak autis menunjukkan bahwa 28% dari subyek penelitian meyakini bahwa anaknya memenuhi kriteria kepemilikan savant skill, yang didefinisikan sebagai suatu keterampilan atau kemampuan “dalam derajat yang tidak wajar bahkan pada ‘orang normal’ sekalipun.” Terdapat pula laporan mengenai 50 kasus sindrom savant tiban atau yang muncul secara tiba-tiba.


 

Artikel ini dialihbahasakan oleh +Eka Y Saputra dari Savant syndrome.

There are 2 comments

Tuliskan pendapatmu

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *