Xinyiba: Kungfu Rahasia Tertinggi dari Kuil Shaolin

Dialihbahasakan oleh ekajogja dari shaolinxinyiba.org.

Ajaran Xinyiba

Sesungguhnya, Xinyiba bukanlah serangkaian gerakan, namun serangkaian keterampilan berdasarkan prinsip-prinsip kuno. Penerapannya meliputi metode-metode latihan unik yang tak berubah berabad-abad lamanya. Penekanannya terletak pada peluapan Kehendak dan Kesungguhan (Xin 心 dan Yi 意).

Pada tataran teknis, elemen Ba (把), yakni metode latihan matang dan multiguna, sangat dekat dengan teknis tombak yang digunakan pada medan perang Tiongkok kuno.

Gerakan ditenagai oleh seluruh anggota tubuh, dengan refleks alami, insting, kesungguhan, dan koordinasi yang efisien.

Dan barangkali yang paling utama adalah penekanan latihan pada seni beradaptasi (tidak terhenti pada bentuk atau bingkai gerakan tertentu) yang sangat cepat instingtif untuk segala situasi.

Latihan Xinyiba

Xinyiba memiliki suatu keunikan, yakni tak adanya jurus-jurus (taolu). Faktanya, Xinyiba adalah sekumpulan keterampilan dan prinsip, bukan sekumpulan gerakan. Prinsip-prinsip tersebut bisa diterapkan pada berbagai gaya bela diri, meskipun sebagian keterampilannya merupakan ciri khas tarung Xinyi.

Metode pelatihan keterampilan Xinyiba berfokus pada Zhuang Gong (berlatih kuda-kuda/bentuk/postur), Bufa (olah kaki), dan pengulangan kombinasi beberapa keterampila; semua yang harus kita “hidupkan” melalui kehendak, juga kesungguhan, agar tidak “mati”, repetitif, dan kosong. Olah kaki dan kuda-kuda Xinyiba secara esensial sama dengan gaya saudara beladirinya, Xinyiluhe ala Ma Xueli dan Xinyi ala keluarga Dai.

Di dalam manuskrip-manuskrip kuno Shaolin, tertulis bahwa “melatih jurus-jurus tanpa melatih kuda-kuda ibarat bermain membabi buta” dan “seperti mengajarkan 1 jurus 10 kalo, namun tak satu pun postur”.

Pada dasarnya, Xinyiba memiliki sebuah postur yang bisa diadaptasikan untuk berbagai situasi. Postur ini kita kenal sebagai Bianhua, seni perubahan/adaptasi. Banyak metode latihan Xinyiba sesungguhnya hanya varian adaptasi dari postur utama. Postur utama tersebut adalah bagian latihan paling mendasar dan paling penting.

Zhuang Gong Xinyiba, kuda-kuda serong (Xie Ba), dipraktekkan oleh Yang Xinhui

Gambar: Zhuang Gong Xinyiba, kuda-kuda serong (Xie Ba), dipraktekkan oleh Yang Xinhui

Beberapa metode latihan lainnya meliputi Tie Shan Kao; Qigong beladiri; latihan tombak dan galah panjang; latihan bertarung; mengekspresikan prinsip-prinsip yang tercantum di tulisan ini ke dalam latihan dan jurus-jurus, latihan meditasi dan kesungguhan, dll.

Setelah seseorang menguasai prinsip-prinsip, keterampilan, dan Zhuang Gong (olah kuda-kuda), ia akan diajarkan teknik induk ikonik Xinyiba, (母把, mu ba), yang terdiri dari dua bagian dasar yang dinamakan teknik Naik dan Turun (Lifting and Sinking Ba). Teknik ini adalah teknik yang multiguna jika dikuasai dengan baik. Orang harus belajar mengadaptasikannya ke berbagai situasi, mengubah kecepatan, sudut, aplikasi, dan kekuatan. Seluruh gerakan yang disebut Ba merupakan turunan dari teknik ini. Oleh karena itu, Xinyiba dikatakan memiliki satu teknik dan satu postur.


Kebanyakan (atau semua) Xinyiba yang ada saat ini berasal dari ajaran Wu Shanlin ketika beliau tinggal selama tiga tahun di kuil Shaolin pada dekade 1930-an. Sepanjang tiga tahun tersebut, beliau memiliki banyak murid, namun tak ada satupun yang berhasil mencapai taraf ahli. Karenanya beliau menyederhanakan Xinyiba dan menstrukturkan latihan ke dalam sebuah bentuk yang bisa dipelajari oleh pemula, agar bisa dilestarikan. Gerakan dan teknik yang diajarkannya saat itu kemudian dikumpulkan oleh murid-muridnya menjadi 12 Ba (atau 24 Ba, tergantung cabang alirannya). Kumpulan itulah yang kita kenal sebagai “Xinyiba Dengfeng”, yang juga diajarkan pada orang luar kuil dan calon biksu. Sejumlah cabang aliran dari Dengfeng bisa dibaca dari varian ajaran tersebut. Namun demikian, macam-macam teknik aliran itu berasal dari satu “Mu Ba”, teknik induk, yang hanya diajarkan oleh Wu Shanlin pada beberapa murid terdekatnya. Teknik induk ini membutuhkan bertahun-tahun penyempurnaan keterampilan, kehendak, dan kesungguhan untuk bisa dikuasai.


Prinsip-prinsip Xinyiba

Enam Harmoni (六合 Liuhe)

Enam Kehendak adalah prinsip-prinsip alami bagi gerak yang efisien. Prinsip yang diterapkan pada binatang, juga manusia, di dalam berbagai aktivitas keseharian kita, misalnya berjalan dan berlari.

Terdapat tiga harmoni eksternal (pinggang dan bahu, lutut dan siku, kaki dan tangan), sebagai koordinasi tubuh yang presisi dan efisien, yang melibatkan tubuh kita sebagai sebuah kesatuan – jika satu bagian bergerak, seluruh anggota tubuh lainnya harus bergerak sesuai koneksinya, menggunakan pusat tubuh sebagai pengendali gerakan dan tenaga struktural (bukan sekedar kekuatan otot belaka). Secara umum, ada sejumlah prinsip yang secara langsung bergantung pada ketiga harmoni eksternal tersebut, misalnya: pembukaan dan penutupan, penyempitan dan peluasan, pembangkitan tenaga sirkular, dll.

Juga terdapat tiga harmoni internal (kehendak dan kesungguhan, kesungguhan dan Qi, Qi dan tenaga). Kehendak, atau “jantung” seperti yang tertulis di dalam manuskrip-manuskrip kuno, ialah segenap keinginan untuk menghantam. Kesungguhan ialah apa yang terjadi pada tubuh setelah secara mental kita memutuskan untuk menyerang. Gerakan memiliki dinamika yang sangat berbeda tergantung pada apakah di dalamnya terdapat kesungguhan atau tidak. Kesungguhan membuat tubuh kita bergerak menyesuaikan dan menjadikannya sebagai jalur yang tepat bagi tenaga, tanpa kita harus secara sadar melakukan pengaturan-pengaturan detil pada otot, tendon, fasia, dan persendian (yang biasanya mengarah secara langsung dari tanah ke ujung penyerangan). Qi mengikuti kesungguhan, dan akan meluncur ke berbagai arah sesuai kesungguhan, bahkan hingga ke luar tubuh. Ini bukan semacam tenaga magis telekinetik; “medan Qi” pasif ini, dikenal sebagai Hunyuan Qi, hanyalah salah satu dari berbagai manifestasi Qi. Qi juga termanifestasi pada jalur kekuatan melalui kesungguhan. Dan akhirnya muncul kekuatan, yang mengikuti Qi. Jika berjalan sebaliknya, dengan kekuatan yang memunculkan Qi, ini lebih mirip dengan pendekatan bela diri eksternal.

Empat ekstensi (四梢 Si Shao)

Empat ekstensi, atau empat ujung, adalah area-area yang harus kita isi dengan kesungguhan untuk mengaktifkan elemen anatomis yang terkait dengannya di dalam tubuh dengan Qi.

  • Lidah adalah ekstensi dari seluruh daging di dalam tubuh
  • Gigi adalah ekstensi dari seluruh tulang (lunak maupun keras) di dalam tubuh
  • Kuku adalah ekstensi seluruh otot di dalam tubuh
  • Rambut adalah ekstensi dari darah (via sistem syaraf)

Tiga Seksi (三节 San Jie)

Tubuh manusia memiliki tiga seksi utama, seperti pohon. Pohon memiliki akar (Seksi Akar), batang (Seksi Tengah), dan cabang-cabang (Seksi Atas). Tubuh manusia pada prinsipnya sama: kaki hingga pinggul (Seksi Akar), pinggang hingga dada (Seksi Tengah), bahu hingga tangan (Seksi Atas). Masing-masing seksi memiliki tiga subseksi.

  • Seksi Atas: Bahu (akar), Siku (tengah), Tangan (atas)
  • Seksi Tengah: Dantian (akar), Jantung (tengah), Dada (atas)
  • Seksi Akar: Panggul (akar), Lutut (tengah), Kaki (atas)

Tenaga berasal dari akar, dikendalikan oleh batang, dan diproyeksikan oleh cabang. Maka, jika kita ingin mengendalikan tenaga lawan, kita memblokirnya pada bagian akar gerakannya. Begitu juga jika kita ingin memunculkan tenaga lebih besar, kita harus memahami jalur kekuatan melalui tubuh kita. Tenaga dibangkitkan saat kita menekan tanah dengan kaki, dikendalikan oleh area pinggang (Dantian, punggung bawah, ginjal, dll.), dan diproyeksikan oleh tangan (atau kaki, tergantung situasi).

Studi Sisi-sisi yang Berlawanan (阴阳 Yin dan Yang)

Pemahaman Yin dan Yang dalam beladiri adalah hal yang esensial bagi para pegiat Kung Fu. Ini adalah pemahaman mengenai berbagai dualitas, baik di dalam mikrokosmos (manusia) maupun makrokosmos (semesta). Berbagai dualitas, termasuk sisi-sisi berlawanan yang saling tergantung dan saling melengkapi (jika satu dihilangkan, yang lainnya menjadi tak berarti; jika satu diabaikan, yang lain jadi tak terengkuh).

Yin dan Yang dalam beladiri artinya ada perubahan kondisi secara konstan, dari yin ke yang, dan dari yang ke yin. Energi-energi ini termanifestasi ke dalam berbagai-bagai dualitas, seperti keras dan lunak, cepat dan lambat, tarikan dan hembusan napas, tinggi dan rendah, meluas dan menyempit, tenaga dari bumi dan dari langit (gravitasi). Dan tubuh manusia sebagai kanal antara langit dan bumi berfungsi untuk mengekspresikan energi-energi tersebut.

Kekuatan terletak di dalam perubahan-perubahan kondisi tersebut, pada titik setimbang antara gerak dan diam. Orang harus menemukan keseimbangan antara keduanya, tak sekedar fokus pada satu aspek saja dan membatasi pemahaman kita.

Lima Elemen (五行 Wu Xing)

Lima elemen adalah sebuah konsep yang berakar dalam pengobatan tradisional Tiongkok. Ada bukti-bukti yang menyatakan bahwa konsep ini berawal dari metode penyembuhan Taois dan mistisisme, bahkan di dalam shamanisme pra-Taoisme.

Pada dasarnya, ada lima elemen, atau lima fase, yang nampak keberadaannya di dalam berbagai aspek alam dan semesta. Terdapat dua siklus di dalam kelima fase ini: siklus pemunculan yang bersifat kreatif dan siklus pencegahan yang bersifat mengendalikan. Masih-masing elemen diaktifkan melalui salah satu dari lima organ utama dalam tubuh manusia.

Diagram lima elemen tradisional Tiongkok dari liveinternet.ru

Gambar: Diagram lima elemen tradisional Tiongkok dari liveinternet.ru

Penting untuk diperhatikan bahwa pemahaman lima elemen dalam Xinyiba berbeda dengan pemahaman di dalam Xingyiquan. Di dalam Xingyiquan, lima elemen tersebut diaplikasikan secara langsung pada tataran teknis. Sedangkan di dalam Xinyiba, lima elemen ini adalah lima tipe energi. Analisis di bawah ini sebagian menggunakan sudut pandang pengobatan tradisional Tiongkok, dan sebagian lagi merupakan manifestasi lima elemen di dalam Xinyiba.

  • Mulut terhubung dengan jantung, merepresentasikan elemen api.
  • Hidung terhubung dengan paru-paru, merepresentasikan elemen logam.
  • Mata terhubung dengan hati, merepresentasikan elemen kayu.
  • Telinga terhubung dengan ginjal, merepresentasikan elemen air.
  • Filtrum (cekungan di atas bibir) terhubung dengan limpa, merepresentasikan elemen tanah.

  • Jantung adalah api. Gerakkan jantung untuk membangkitkan tenaga lebih besar.
  • Paru-paru adalah logam. Tekan paru-paru, kemudian keluarkan suara sekeras petir.
  • Hati adalah kayu. Gerakkan kayu untuk membangkitkan tenaga eksplosif seperti api.
  • Ginjal adalah air. Gunakan ginjal untuk bergerak secair dan secepat angin.
  • Limpa adalah tanah. Gunakan limpa untuk berdiri dengan tenaga dan stabilitas yang tangguh.

Kelima organ utama ibarat lima gerbang bagi tubuh. Kita harus menjaganya dan mencegah lawan menyerang gerbang tubuh kita.

Siklus-siklus

Kelima elemen itu tidak terpisahkan. Justru kelimanya erat bekerja sama dan memiliki pola dan urutan internalnya masing-masing. Aturan yang mengatur kelima elemen itu meliputi sebuah siklus saling membangkitkan, siklus saling menghambat, saling menaklukkan, saling membalikkan, dan keseimbangan antara pembangkitan dan penghambatan.

Siklus Saling Membangkitkan

Suatu elemen (sebagai induk) memperkaya, menutrisi, menguatkan, mendukung tumuh kembang elemen lainnya (sebagai anak).

Pembangkitan
  • Kayu menjadi bahan bakar bagi Api
  • Api mengubahnya menjadi Tanah (abu)
  • Tanah melahirkan Logam
  • Logam (dalam partikel) mengumpulkan dan memperkaya Air
  • Air menutrisi Kayu
Interpretasi

(mendukung, membantu)
+ Kayu adalah elemen pendukung Api. Api mewujudkan kekuatan Kayu.
+ Api adalah elemen pendukung Tanah. Tanah mewujudkan kekuatan Api.
+ Tanah adalah elemen pendukung Logam. Logam mewujudkan kekuatan Tanah.
+ Logam adalah elemen pendukung Air. Air mewujudkan kekuatan Logam.
+ Air adalah elemen pendukung Kayu. Kayu mewujudkan kekuatan Air.

Siklus Saling Menghambat

  • Kayu (akar) menusuk Tanah
  • Logam membelah Kayu
  • Api melelehkan Logam
  • Air memadamkan Api
  • Tanah membendung (atau menyerap) Air

Siklus-siklus tersebut juga bisa disebut kendali, penghambat.

Siklus Saling Menaklukkan

Kata Tiongkok untuk penaklukkan, “ke” berarti “inhibisi” atau “pemenangan atas”. Di alam, kayu mengendalikan tanah. Pada tubuh, hati (elemen kayu) mengendalikan limpa (elemen tanah) dan menaklukkan fungsi-fungsinya demi mewujudkan keseimbangan. Jika fungsi hati berlebihan, akan ada penaklukkan atas fungsi limpa sehingga terjadi ketidakseimbangan dalam tubuh. Ini terjadi karena fungsi hati yang berlebihan membangkitkan api, yang kemudian mengganggu aliran Qi. Tanpa aliran Qi yang lancar, limpa tak bisa mengubah makanan menjadi Qi lagi.

Siklus Saling Membalikkan

Jika lawan terlalu kuat, elemen pengendalinya akan dibalikkan menjadi elemen yang terkendali. Ketika kayu terlalu kuat dan elemen pengendalinya (logam) terlalu lemah, maka kapak (logam) tak mampu membelah kayu dan bahkan bisa patah karena kekuatan pembalik dari kayu. Ini menggambarkan siklus pembalikkan sebab kayu mampu mengendalikan logam, tidak seperti wajarnya. Di dalam tubuh kita, jika limpa berfungsi berlebihan, organ pengendalinya (hati) akan terpengaruh oleh siklus pembalikan. Fungsi limpa yang berlebihan akan membangkitkan panas dan lembab yang terperangkap dalam tubuh. Panas dan lembab yang terperangkap akan memanaskan hati dan kandung empedu. Jika hal ini terjadi, kandung empedu tak lagi mampu mengatur sekresi empedu,sehingga muncul penyakit.

Siklus Pembalikkan
  • Kayu membalikkan tenaga Logam (kayu mematahkan kapak)
  • Logam membalikkan tenaga Api (serbuk logam memadamkan api)
  • Api membalikkan tenaga Air (api menguapkan air)
  • Air membalikkan tenaga Tanah (air membobol bendungan)
  • Tanah membalikkan tenaga Kayu (batu tak tertembus akar)

Keseimbangan antara Pembangkitan dan Penghambatan

Tabib Tiongkok terkenal Zhang JingYue (1563-1640) mengatakan, “Mekanisme penciptaan tak bisa berjalan tanpa dukungan, juga tanpa pengendalian. Jika tak ada dukungan, tak akan ada tumbuh kembang. Jika tanpa pengendalian, penciptaan yang berlebihan menjadi berbahaya. Penting adanya pengendalian di dalam dukungan dan dukungan dalam pengendalian agar semuanya berjalan secara kontinu, baik saling melengkapi maupun saling berlawanan.”

Keseimbangan antara penciptaan dan penghambatan penting untuk transformasi yang wajar bagi kelima elemen. Masing-masing elemen berada di bawah pengaruh keempat elemen lainnya. Kayu menciptakan api dan air menciptakan kayu. Di sisi lain, kayu menaklukkan tanah dan ditaklukkan oleh logam. Dengan demikian, kelima elemen mewujudkan homeostasis rumit di alam. Pengetahuan ini juga telah diaplikasikan ke dalam pengobatan tradisional Tiongkok – dengan memasukkan lima elemen ke dalam strategi pemeliharaan kesehatan – selama ribuan tahun.

Tak ada komentar

Tuliskan pendapatmu

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *