Algoritma Google menggunakan ribuan sinyal untuk menentukan peringkat laman web di hasil pencarian. Bagaimana strategi SEO yang benar untuk menaikkan jumlah pengunjung situs web kamu?


meningkatkan trafik website dengan white hat SEO

Artikel Seri SEO Topi Putih #2: Teknik Meningkatkan Trafik Website ini diadaptasikan untuk pembaca Indonesia oleh Artisan Konten dari sumber 7 White Hat SEO Techniques to Double Traffic by Chuck Price.


7 Teknik Meningkatkan Trafik Website ala White Hat SEO

1. Utamakan Pengalaman Pengguna Ponsel & Tablet (Mobile First)

Saya (baca: Chuck Price) mulai menyarankan pendekatan SEO dengan mengutamakan pengalaman pengguna ponsel dan tablet (mobile first) pada Maret 2015.

Saat itu, saya menyebut pembaruan tertunda algoritma Google untuk pencarian di perangkat mobile sebagai “Mobilegeddon”.

Meskipun nama tersebut cukup populer, namun pada hari H tanggal 21 April 2015, pembaruan algoritma tidak menghasilkan perubahan sebesar yang saya bayangkan sebelumnya.

Akan tetapi, hal itu berhasil memperingatkan semua orang bahwa era mobile telah tiba, bukan lagi “gagasan di masa depan”. Siapa pun yang mengabaikan peringatan untuk lebih memperhatikan pengalaman pengguna ponsel dan tablet akan segera tertinggal dari kompetitor.

Saat ini, Google mengunggulkan akses mobile dengan mengeluarkan pernyataan: “laman web dengan konten yang tak bisa diakses sempurna oleh pengguna dari hasil pencarian mobile tak akan memperoleh ranking tinggi.”

Dengan kata lain, indeks Google bergeser ke arah mobile first. Jika laman webmu tidak mobile-friendly, maka situs webmu akan turun dalam peringkat hasil pencarian. Hal ini sangat berpengaruh terutama pada situs web yang menyajikan iklan interstisial.

Jika kamu tidak yakin apakah websitemu ramah bagi pengguna perangkat mobile, gunakanlah alat pengujian situs mobile-friendly, dan ikuti panduan perbaikan yang ada di sana.

Sebagai tambahan, perhatikan bagaimana menerapkan Accelerated Mobile Page (AMP) untuk websitemu. Baca panduannya di Pedoman Google Penelusuran untuk laman AMP.

2. Indeks Mobile bersifat Lokal – Klaim Bisnismu di Google

Dengan keberadaan pelacak GPS di ponsel dan tablet, maka pencarian dengan perangkat mobile terkait erat dengan pencarian tingkat lokal.

Menurut The Mobile Playbook, 20% dari keseluruhan pencarian di ponsel mengandung intensi lokal. Selain itu:

 

Dengan upaya Google untuk terus meningkatkan kemampuannya dalam menyajikan hasil pencarian lokal, maka sangat penting bagi kita untuk menampilkan data yang lengkap dan akurat dalam profil Google Bisnisku.

Kita tidak tahu berapa persen dari pebisnis lokal yang sudah memiliki profil Google Bisnisku. Yang jelas, jika kamu belum memilikinya, jangan berharap bisnismu mampu bersaing di laman pencarian ke depannya.

3. Utamakan Pengalaman Pengguna (User Experience – UX)

Google selalu menghimbau pada para webmaster untuk menyajikan pengalaman terbaik bagi pengunjung situsnya.

Dengan semakin cerdasnya algoritma pencarian, situs web yang mengikuti prinsip tersebut akan lebih diunggulkan.

Yang perlu dicatat, perwujudan user experience yang baik membutuhkan lebih dari sekedar keterampilan dalam pemrograman saja.

Menurut hasil studi dari Oxford Journal, “Tujuan dari desain UX di dalam bisnis adalah untuk meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan. Hal ini dapat dicapai melalui kelengkapan fungsi, kemudahan penggunaan, dan kenyamanan saat berinteraksi dengan suatu produk.”

Dalam hal ini, produk kita adalah website. Maka, sejak awal kita harus menentukan apa saja harapan pengunjung website, kemudian membangun sistem navigasi yang mudah, yang menyenangkan dan menyajikan pengalaman terbaik.

Tidak sulit menerapkan prinsip-prinsip UX. Kita bisa menemukan banyak panduan di internet. Yang membedakan antara para profesional dengan amatiran adalah penggunaan A/B testing.

Masing-masing dari kita memiliki bias tentang desain web yang enak diakses. Untuk mengatasi subyektivitas itu, sebaiknya kita menjalankan serangkaian eksperimen untuk memperoleh data obyektif mengenai desain yang optimal bagi situs web kita.

4. Riset Kata Kunci

Bagaimana pun juga, pencarian di Google dimulai dengan kata kunci yang dituliskan – atau diucapkan – oleh pengguna.

Oleh karena Google hanya memberikan sedikit data mengenai kata kunci pencarian (keyword – KW), maka kita bisa menggunakan dua layanan penyedia keyword explorer terbesar: Moz dan Ahrefs.

Meskipun keduanya sangat bermanfaat untuk riset kata kunci pencarian, namun pengaruhnya bagi hasil pencarian Google tidak begitu kuat sejak adanya algoritma RankBrain.

RankBrain pada dasarnya adalah sebuah algoritma pembelajaran mesin (machine learning). Algoritma ini memampukan Google untuk menangkap konteks kata kunci pencarian, tidak sekedar menerapkan rangkaian kata secara tekstual saja.

Dengan kata lain, saat ini Google mampu memahami nuansa-nuansa bahasa seperti sebab akibat, sinonim, dan jawaban yang relevan untuk pertanyaan tertentu.

Perkakas riset keyword generasi terbaru sudah mempertimbangkan hal ini dalam metode kerjanya dengan menyajikan tawaran topik terkait dan pengelompokan kata kunci. Dengan fitur tersebut, pengguna bisa membangun konten yang memuat frasa-frasa relevan untuk konteks tertentu.

Namun, jangan sampai kamu tergoda untuk menjejalkan segala variasi frasa ke dalam suatu artikel. Hal itu justru membuat Google menganggapmu melakukan kecurangan keyword-stuffing.

5. Susun Rencana Pemasaran Berbasis Konten (Content Marketing)

Berdasarkan studi B2C tahun 2015 oleh The Content Marketing Institute, hanya 37% responden yang meyakini efektivitas pemasaran berbasis konten.

Pada kenyataannya, konten merupakan salah satu dari dua faktor penentu ranking pencarian Google. Maka, kita bisa memanfaatkan ketidakpercayaan publik tersebut demi keuntungan pemasaran website kita dengan menyusun rencana content marketing yang baik.

Banyak orang, terutama para staf Google seperti Matt Cutts dan John Mueller yang menyerukan mengenai “important of awesome content“. Pertanyaannya, konten seperti apakah yang awesome itu?

Secara sederhana, konten yang baik harus unik, bermanfaat, dan mendorong keterlibatan pengunjung (lihat Prinsip Dasar White Hat SEO). Ini bukan persoalan yang rumit. Kita hanya harus memiliki empati terhadap para pengunjung website kita.

Ann Handley menyusun formula ini untuk meringkasnya:

Useful x Enjoyable x Inspired = Innovative Content

Berguna x Asyik x Luar Biasa = Konten Inovatif

Ingatlah selalu tentang kueri pencarian “konversasional”.

Pada Juli 2015, lebih dari 30% pencarian dijawab oleh Google dengan rich answers. Artinya, bukan sekedar menampilkan daftar laman web, hasil pencarian Google juga menampilkan boks yang berisi jawaban ringkas atas kueri pencarian yang dituliskan oleh pengguna.

Kebanyakan jawaban kaya tersebut melayani kueri “siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana”.

Meskipun terasa sangat menyenangkan saat konten web kita berada dalam posisi teratas sebagai rich answer, namun sayangnya, kebanyakan pengguna justru berhenti di situ tanpa sempat mengklik laman web kita. Persentase berhentinya hingga sebesar 55%.

Lebih penting lagi, teknologi jawaban kaya atas kueri konversasional tersebut sudah diterapkan pada penelusuran dengan suara (voice search) Android.

Persentase penggunaan pencarian berbasis suara hingga sebesar 55% oleh remaja dan 45% oleh pengguna dewasa.

Ditambah dengan keberadaan produk Amazon Echo dan Google Home, maka penggunaan voice search jelas akan makin bertambah secara eksponensial di masa mendatang.

6. Gunakan Schema untuk Tampilan Hasil Pencarian

Pada 2014, Searchmetrics melaporkan bahwa lebih dari sepertiga hasil pencarian Google ditampilkan dengan rich snippets yang didukung oleh Schema.

Sayangnya, hanya 0,3% website yang menggunakan alat pembuat Schema yang didukung oleh Google. Meskipun angka tersebut sudah pasti bertambah saat ini, namun penerapan Schema untuk konten masih menjanjikan keunggulan laman web di hasil pencarian.

Schema, yang diprakarsai oleh Schema.org, adalah sekumpulan tag HTML yang bisa ditambahkan dalam sebuah laman web. Tag-tag tersebut menyajikan deskripsi yang lebih rinci saat laman ditampilkan di hasil pencarian, kerap disebut sebagai rich snippets.

Dengan kata lain, Schema berfungsi untuk membuat rich snippets bagi laman web untuk Organisasi, Acara, Musik, Orang, Produk, Resep, Rating Ulasan, dan Video.

Keunggulan menggunakan Schema

7. Penambahan Jumlah Tautbalik (Link Building)

Kelak mungkin akan tiba saatnya ketika jumlah tautbalik (backlink) menjadi kurang dominan terhadap peringkat suatu laman.

Untuk saat ini, kuantitas dan kualitas tautbalik ke suatu laman masih menjadi faktor penentu ranking hasil pencarian.

Jika kita mengabaikan fakta ini (catatan penerjemah: saya juga mengabaikannya), maka akan lebih sulit bersaing dengan kompetitor.

Kunci dari link building adalah bagaimana cara mendapatkan tautbalik yang bermutu, yang relevan dengan konten kita. Biasanya backlink yang bagus dibuat oleh manusia (bukan bot/mesin) dan diberikan secara sukarela (bukan hasil jual beli).

Salah satu pendekatan paling baik untuk memperoleh tautbalik yang relevan adalah dengan membuat semacam pusat informasi. Laman pusat informasi bisa diadaptasikan dengan segala macam website.

Selain untuk memperoleh tautbalik, pusat informasi juga berguna untuk membangun kepercayaan dan otoritas. Baca mengenai apa itu authority site dan mengapa situs otoritas lebih unggul dari bentuk situs lainnya.


Intinya, kita tidak harus terlalu mengupayakan terpenuhinya ratusan atau ribuan sinyal penentu ranking pencarian demi meningkatkan trafik website.

Cukup fokus pada ketujuh poin di atas. Jika kamu melakukannya dengan cermat dan tekun, sangat mungkin jumlah pengunjung websitemu akan naik hingga berkali lipat dalam waktu beberapa bulan saja.


Baca artikel lainnya di Arsip Esai SEO Topi Putih.


Kredit foto: Ron Smith

  Jadilah Patron!

17 September 2017

Berikan komentar - no value, no backlink ;)